Abstract:
Penelitian ini menyelidiki bagaimana stress yang berasal dari pekerjaan dan
kelelahan emosional mempengaruhi niat keluar karyawan dari Generasi Z di
Kabupaten Tangerang. Latar belakang menunjukkan adanya kecenderungan tinggi
untuk berpindah pekerjaan (job hopping) di kalangan Generasi Z, yang disebabkan
oleh tekanan kerja dan ketidakpuasan, di mana 83% partisipan dalam survei
memiliki durasi kerja rata-rata hanya 2 tahun 3 bulan. Studi ini menggunakan
metode kuantitatif dan melakukan survei terhadap 130 peserta yang dipilih melalui
purposive sampling. Data berhasil diperoleh melalui kuesioner daring dan dianalisis
menggunakan regresi linear berganda setelah menjalani uji asumsi klasik Hasil
penelitian menunjukkan bahwa job stress berpengaruh positif dan signifikan terhadap
turnover intention dengan koefisien regresi β = 0,227 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05.
Selain itu, burnout juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention
dengan koefisien regresi β = 0,619 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, serta memiliki
pengaruh yang lebih dominan. Secara simultan, job stress dan burnout berpengaruh
signifikan terhadap turnover intention dengan nilai F hitung = 176,514 dan
signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (R² = 0,736) menunjukkan
bahwa 73,6% turnover intention dipengaruhi oleh job stress dan burnout,
sedangkan 26,4% dipengaruhi faktor lain di luar penelitian. Berdasarkan temuan
tersebut, perusahaan disarankan untuk lebih memperhatikan pengelolaan stres kerja
serta pencegahan burnout guna menurunkan tingkat turnover intention, khususnya
pada karyawan Generasi Z.